Top Social

Bring world into Words

Resensi Buku: Ranu, Saat Hati Menemukan Cintanya

Sabtu, 16 November 2013




Jadi ceritanya saya lagi ikutan NaNoWriMo nih, tantangan nulis 50.000 kata, menelurkan (emang saya unggas?)sebuah novel. Sebuah obsesi saya ynng belum kesampean. Maunya sih jangan satu buku aja, lanjut lagi dan lagi. Berapa lapis? Ratusan.  Ih, emang wafer?
Hehehe, satu outline, satu prolog dan satu isyu  sudah saya buat. Beberapa bab sudah saya paparkan.  Hasilnya? Saya sering dibuat nanar menatap hitungan angka, tragis.Menyedihkan. Ada kalanya schedulu saya tidak berjalan mulus. Kalau sudah begini rasanya pengen nangis aja. *tissue mana tissue?*

Baiklah, saya mencoba buat realistis. Saya pernah baca satu status, duh lupa status siapa. Yang jelas bukan status palsunya Vidi Aldiano. (Yaaaa,tambah ngelantur). Jadi penulis itu perlu sabar. Sabar menjalani semua proses. Sabar  menulis, Sabar dengan aneka interupsi , selingan dan aneka jeda lainnya.

Catet, sabar. Oke. Next? Ya, resep klasik tapi emang numero uno. Menulis menulis dan menulis. Kalau lagi terjeda, gini. Gimana atuh? Biasanya saya ngeblog, fesbukan (halah) dan ini, baca. Baca referensi, baca literasi, ngorek-ngorek ide dan inspirasi, siapa tau ada yanng blink-blink dan asyik buat diboyong jadi bahan cerita.
Nah, saya mau nge-review lagi ah.

Minggu ini, saya punya buku keren dari penulisnya langsnng, lho. Dalam rangka apresiasinya gara-gara resensi yang saya pernah posting tentang novelnya yang sebenarnya udah lama tapi telat review. Hihihi.....

Saya dikasih buku Home sama Ranunya Ifa Avianty. Penulis yang dengan sok akrabnya saya sapa teteh.  Makasih banget, truly, madly, deeply novel-novelnya  inspiring banget. Suerrrr.

Judul Buku : Ranu, Saat Hati Menemukan Cintanya
Penulis : Ifa Avianty & Azzura Dayana
Penerbit: Quanta - Imprint Elex Media Komputindo, 2013
Jumlah Halaman : 305 + IX
ISBN :  978-602-02-1267-8
Harga : Ga tau, karena gratis (:P)

Perhatian saya tertuju langsung sama novel Ranu : Saat Hati Menemukan Cintanya. Pas baca judul dengan covernya saya langsung inget novelnya Donny Dhirgantoro. Pasti ada hubungannya sama danau cantik di Semeru sana.
Halaman-halaman awal ternyata saya disuguhi venue pedalaman Baduy. Venue yang tadinya mau (tepatnya pengen) saya kunjungi pas jaman kuliah. *Cerita tentang itu nanti aja* Ada tokoh Ayuni yang muncul di sini. Ayuni yang jutek,  pemurung dan suka misuh-misuh dan rusuh dengan temannya Dios yang disapanya dengan mesra sebagai  Badak  Jawa.  Biasanya yang suka berantem begini ujung-ujungnya jadian, ya?
To early to analyze.  Ga seru ah, ternyata ga begitu. Di novel yang dibuat teh Ifa (tuh, sok akrabnya kumat) berkolaborasi dengan Azzura Dayana, seorang bacpacker yang doyan foografi juga. Seneng deh, saya nambah wawasan soal fotografi dari novel ini dari sentuhannya doi.  Ay yang doyan fotografi ternyata punya musuh bebuyutan di blognya, Ranu. Ranu yang ternyata kenal juga dengan Ai, alias Irene yang juga sepupunya Ay.

Alur cerita lantas berpilin, berputar maju mundur (kayak naik halilintar dicampur kicir-kicir) mengikuti hayalan para tokohnya mengenang masa lalu.  Masa lalu yanng ternyata berhubungan diantara Ay dan Ranu. Ada Ai lainnya yang pernah hadir di hidupnya Ranu, Ai yang juga dikenal Ayuni.  Ai yang juga jadi cintanya Fajar, kakaknya Ayuni. Pusing? Pegangan yang kuat , ya.

Lanjut.!
Gara-gara Dios, Ayuni akhirnya terseret proyek pembuatan film dokumenter yang membuatnya sering bertemu dengan Ranu,  juga proyek  yang didukung penuh kantor majalahnya Irene bekerja. Dan begitulah, benih-benih cinta itu muncul, muncul dengan malu-malunya diantara Ayuni, Ranu dan Irene.

Jadi Ranu millih siapa? Ga mungkin kan, milih dua-duanya?
Nah, tipikalnya teh Ifa yang doyan menyelipkan lagu-lagu di setiap ceritanya. Kalau beberapa cerita sebelumnya sering bikin saya senyum-senyum, malah suka dikira rada strip sama temen yang aneh liat saya tiba-tiba ngikik depan buku yang saya baca, Ranu ini beda. Iya sih, novel terakhir  sebelum ini, The Romantic Girl ada beberapa scene yang bikin saya nangis terharu.
Kalau Ranu bukan beberapa lagi, mostly bikin saya termehek-mehek (ketauan ya, sisi sensinya seorang Efi). Ikut larut dengan lamunan masing-masing tokoh utama, Ay, Ai dan Ranu. Malah siang tadi pas saya nunggu giliran di Bank yang Cape Ngantri (bank apakah itu?) dan satu bank lainnya yang punya nasabah eh rakyat yang banyak (ketebak, ga?) saya rada malu juga, ada bagian yang bikin mata saya berembun (lagi).  Mestinya kalau ada bank yang suka nyediain permen di meja teller, harus nyedian tissue juga nih. Buat Pengantri seperti saya, siapa tau tiba-tiba cemen , terharu. Ga penting!

Bagian apa yang bikin terharu? Ah biarlah jadi rahasia saya. Hehehe. O, ya. Waktu saya baca di novelnya, ada tagline novel islami. Sambil baca saya sempet mikir, sebelah mana islaminya? Iya sih, ga ada scene yang vulgar. Baik di novel ini maupun novel lainnya. Oh, ternyata semakin dalam saya telusuri, ada scene ketika tokoh-tokohnya menemukan kembali jalannya, kembali rutin dengan salatnya yang bolong-bolong. Menemukan kembali kerinduannya dengan Sang Khalik, Sang Maha Cinta yang menyapa lembut hamba-hambanya yang  cuek dengan ibadah yang dianggap sepele selama ini. Teh Ifa danAzzura Dayana mengutip terjemah surat Al Mulk ayat 3-5 dengan sangat manis.  Juga ketika akhirnya salah satu tokoh berhijab, menutup auratnya.

Yang telah menciptakan tujuh  langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.  Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian padanglah sekali lagi, niscaya  penglihatanmu akan kembali padamu dengan tidak menemukan sesuatu yang cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang. (Q.S Al-Mulk : 3-5)

Eastjava.com

Tadi di awal saya sempet yebut-nyebut soal Ranu Kumbolo, ya?  Danau yang indah, danau yang ada di guung Mahameru yang kata Doni Dhirgantoro mistis dan suka menelan korban, akhirnya dibahas juga. Saya jadi kesindir sama ucapannya Fajar, kakaknya Ay yang bilang kalau sebenernya masalah mendaki gunung itu bukan soal kuat atau tidak kuat, tapi soal niat. Mereka yang ga sehat banyak juga yang berhasil menikmati keindahan gunung, menikmati eksotisnya keindahan dari puncak ketinggian. Saya kesentil, nih. Ranu Pane,  yang belum seberapa tinggi dari Ranu Kumbolo yang kadar k dinginannya menusuk tulang.  Saya jadi inget pas jaman kuliah dulu, dihajar hawa dinginnya gunung Puntang atau Bumi Perkemahan Ciwidey aja udah bikin saya kepayahan. Halah.
Last but least, saya suka banget sama keyword Starlet Eyes-nya. Starlet Eyes yang menjadi tanda buat Ranu memilih cinta sejatinya, Starlet Eyes yang mengingatkan saya pada seorang teman, seorang teman berantem yang punya Starlet eyes juga. (udaaah, jangan curhat di sini).
Jadi, saya rekomendasiin buku ini buat dikoleksi.  Ga rugi buat dibeli. Serius. Satu kritik saya buat buku ini adalah kurang tebal. Pas kelar baca ceritanya, yaaaa, udahan deh. Hehehe.  Jadi siapa si Starlet Eyes itu? Ay, atau Ai? Ranu ngajak siapa buat nikah, ya? Pastinya bukan saya. Lah, saya enggak ada di novel itu, gimana mau diajak coba?







Post Comment
Poskan Komentar

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.