Top Social

Bring world into Words

Pieters Park, Dulu dan Sekarang

Kamis, 28 November 2013
Sudah pernah baca novel Negeri van Orange? Kalau sudah, tau dong karakter Wicak, aktifis Green Peace yang harus 'kabur' dulu ke Belanda karena nyawanya terancam gara-gara aktifitas Wicak yang  menentang pembalakan hutan di Indonesia.

Nah, dalam satu scene, diceritakan Wicak jalan-jalan ke salah satu kawasan hutan di Wageningen. naluri Wicak sebagai pecinta alam langsung mensetting di pikirannya kalau Wicak harus siap dengan perlengkapan khasnya 'ngutan'. Mulai dari air minum 2 liter, pisau lipat sampai ransel yang badag njum alias besar itu. Eh ternyata Wicak saltum. Hutan yang dikunjunginya ga jauh beda penampakannya dengan Kebun Raya Bogor. Ternyata yang dimaksud hutan di sana itu kurang lebih seperti taman kota, hutan buatan gitu.
gardenvisit.com
Makanya dosennya Wicak tertawa dan bilang jangan samakan hutan di sini sama hutan di Asia sana yang emang cantik.

Well, ternyata bule-bule londo di sana emang para pecinta tanaman. Selain festival Keukenhofnya di bulan April  yanng terkenal itu masih ada festival Zundert yang digelar di minggu pertama bulan September.
http://www.keukenhof.nl
 Salah satu peserta Festival Zundert, sumber :http://www.mymodernmet.com
Ngomong-ngomong soal festival bunga, saya jadi inget dulu di TVRI suka ada relay festival bunga dari Pasadena. Setiap kontingen (kesannya kayak olimpiade gitu, ya?) bergiliran melintas di depan penonton sambil dadah-dadah dengan pakaian tradisional khas negara masing-masing, ditambah dengan keseniannya. Indonesia juga ikutan berparttisipasi seperti gambar beikut.
sumber : meghanitafairytale.blogspot.com

Meskipun Pasadena punya event gede-gedean sampai skala internasional, imej negeri pecinta bunga dan tanaman udah identik sama Belanda. Tapi bukan berarti karena mereka doyan nanam bunga jadi doyan juga maksa nanam waktu dulu menjajah Indonesia, ya. Hahaha maksa banget sih.

By the way, Bandung pernah dikenal dengan julukan Kota Kembang, ya. Kayaknya seru tuh kalau ada festival bunga di Bandung, kayak festival Zundert atau Keukenhof. Jadi event tahunan seerti Festival Dago atau pasar Seni ITB yang nyedot banyak pengunjung dari luar kota.*ngayal dulu*

Eh tapi selain budaya arsitek bangunannya yang berkelas ala Art Deconya itu, Belanda juga meninggalkan  warisannya berupa taman, salah satunya taman Balaikota di Bandung atau dulu dikenal dengan nama Pieterspark.Meskipun mananya Pieters Park, tapi sebenarnya yang mendesain taman ini adalah R. Teuscher yang lagi-lagi seorang ahli botani londo. Kenapa jadi dikasih nama Pieters Park, alasannya adalah sebagai bentuk apresiasi pemerintah Hindia Belanda untuk Pieter Sijthoff yang berperan dalam membangun kota Bandung.

Mau tau Pieters Park jaman Belanda dulu?
Seperti ini nih....
Pieterspark, 1910. Sumber : Mahanagari
 Dan ini kartu foto  yang dibuat dengan tehnik lightdruck  dari Pieters Park yang dibuat tahun 1905. Keren, ya. meskipun ada unsur imajinatifnya.

sumber : Mahanagari
Konon nih, Pieters Park ini dibuat sebagai pengganti dari taman sebelumnya yang lahannya dijadiin gedung De Javasche Bank alias gedung Bank Indonesia sekarang. Nah, beberapa hari yang lalu, saya maen-maen ke Taman Balai Kota (Kadang disebut Taman Dewi Sartika atau Taman Badak Putih karena ada patungnya di taman) untuk nyambangin salah satu stand teman saya yang ikutan bazaar di sana. Sayang dong kalau cuma makan aja terus pulang, makanya saya niatin bawa kamera sambil foto foto.

Jadi, seperti ini penampakan Taman Kota Balai Kota Bandung di  hari minggu. 



Ada banyak kelompok anak-anak ABG (sekitar usiaSMP-SMA) yang tersebar di beberapa titik lagi kumpul dan joget-joget. Entah memang sekedar menyalurkan hobi atau dalam rangka latihan buat ikutan lomba. Saking niatnya, joget-joget mereka diiringi musik dari radio, hp sampai netbook segala. (Jadi iseng mikir, kalau netbooknya habis batre, kayaknya latihan bubar gitu, ya? Secara ga ada colokan listrik).

Tadinya saya kira ga bakal serame ini, ah ternyata saya ga update. Rencana saya buat foto-foto venue di sini jadi sedikit terganggu karena harus menghindari mereka yang enggak pengen saya shoot. (Dasar sayanya aja fotografer abal-abal, amatiran!).

Eh, ngomong-ngomong soal pohon, saya sempet moto-moto juga. Pengetahuan saya yang payah soal beda satu pohon dengan pohon yang lain sedikit tercerahkan dengan keterangan yang ada di bawah pohon. Oh, jadi pohon ini namanya pohon ini toh, oh begitu ya.... *manggu-manggut sok ngerti*


Nyamplun alias Callophylum Inophyllum
Dari ketinggian sekitar 75 cm aja, pohon ini udah punya cabang. Gambar disamping ini  adalah pohon Nyamplung. Istilah latinnya Callophylum Inophyllum. Sayangnya pohon ini belum berbuah waktu sama ke sana. Kayunya yang ringan membuatnya dijadikan bahan untuk membuat kapal laut. Tambahannya lagi,biji nyamplng ini bisa dijadikan bahan baku untuk buat diesel. Katanya sih, lebih bagus kualitasnya dari solar. Ihiy, kalo bener, ga usah mahal-mahal lagi beli solar ke luar negeri dong?


Nah pohon yang ramping ini namanya pohon Kimerak atau nama latinnya Caesalpinia Pulcherrima. Duh, ini bahasa latin bikin keseleo llidah :). Pohon Kimerak atau juga disebut sebagai pohon Patrakomala ini ternyata tanaman khas Bandung lho. Pantesan ya, dari namanya juga terdengar sundanese banget. Kalau sudah berbunga, Patrakomala ini cantik banget lho. Coba googling deh. Dan setelah sekian lama denger istilahnya, saya baru lihat pohon Kalpataru lho. Hahaha.... asli ya, kudet. *bisa-bisa dikitikin pake kemoceng rame-rame sama mahasiwa jurusan biologi nih*




Lalu ada  Cemara Papua juga. Daun-daunya lebat banget. Jadi inget lagunya Katon nih. 
Langkah kaki seiring...
pandangan hijau terhampar...
di tepi hutan cemara...
*cukup konsernya*

Nah kalau yang ini namanya adalah pohon Sapu tangan yang nama latinnya Maniltoa Gemnifora. Daunnya yang lunglai dan mirip sapu tangan ini lah kenapa dia dikasih nama itu. Pohon yang satu ini bisa dipelihara sebagai tanaman hias lho.

Oh, ya ini penampakan patung badak putih yang ada di taman. Sayang banget kolam yang ada di bawahnya sedikit ganggu. Coba kalau diurus dan ada ikannya. Bakal cantik deh keliatannya, ga kumuh seperti ini.


Ga jauh dari patung badak putih, ada bangunan segi lima semacam gazebo, jadi inget sama penampakan gedung sate. Citarasa arsitek Belanda emang keren deh.


Belum puas keliling-keliling taman, sekalian aja saya jalan-jalan ke area perkantoran Pemkot Bandung. Lihat pilar dan lorong-lorongnya, khas banget  warisan Belanda. Rasanya seperti time travel aja *lebay*.




 


Sekalian aja saya juga numpang narsis di depan display fotonya Kang Emil. Hihihi.... kumat deh banci kameranya.


Puas foto-foto di Taman Balai Kota dan sekitarnya, saya lanjutin 'napak tilas' menuju jalan Braga. Cerita yang ini lain kali saya lanjutin ya. :)





8 komentar on "Pieters Park, Dulu dan Sekarang "
  1. bagus n seger ya. Noted deh sebagai tambahan tempat buat piknik kalo ke Bandung.

    BalasHapus
  2. Patung badak itu..konon kalau malem bisa jalan lho.. :-s

    BalasHapus
  3. @Vica Item
    Asik Ma, cuma daun-daun yg berserakan itu rada ganggu. Mungkin hari minggu kali, ya, petugasnya pada libur. Ditambah ada acara bazaar juga waktu saya datang ke sini.

    BalasHapus
  4. @Adit Purana
    Serius? jadi inget kasak kusuk kakek2 yang suka bawa becak dengan baju tentaranya itu. Pernah liat ga? Ada rumor berbau mistis tentang dia, wallahualam.

    BalasHapus
  5. @Hanna HM Zwan
    Iya Mak, seneng juga jalan-jalan di taman. Cuci matanya beneran deh, murah lagi hehe

    BalasHapus
  6. wah,,rame bgt ya kyknya mak,,tp hijau,,seneng liatnya :)

    BalasHapus
  7. @bunda aisykha
    Yang ijo-ijo itu emang seger mak. Kecuali ijonya dari kuda hehehehe jijay deh

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.