Top Social

Bring world into Words

Resensi Buku : Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta

Sabtu, 12 Oktober 2013
Judul Buku : Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta
Penulis        : Tasaro GK
Penerbit      : Qanita - Mei 2013
Hal               : 264 
Genre           : Fiksi


 
Pecinta fiksi, pelahap novel mana yang tidak tahu dengan buah penanya Tasaro? Mulai dari Kinanthi, Muhammad, Sewindu : Cinta Itu Tentang Waktu, sampai yang teranyar sekarang, Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta,  (TSKDC). Kalau Muhammad 1 dan Muhammad 2 bercerita agungnya perjalanan hidup rasulullah saw, Nibiru mengajak pembacanya berfantasi, maka TSKDC ini mengajak kita, para pembacanya untuk menyalami banyak karakter tokoh di dalamnya. 

Tidak seperti buku-buku sebelumnya, TSKDC ini berisi kumpulan cerita yang semuanya ditulis oleh Tasaro sendiri. berkolaborasi dengan pelukis muda kelahiran Tasik, Dredha Gora Hadiwijaya. Setiap cerita, dibedakan 6 warna ditambah dengan dan goresan kuas Dredha di setiap akhir cerita, membuat TKSDC benar-benar penuh warna. Sampul buku ini juga adalah karya dari Dredha juga. Tentu saja, jangan lupakan diksi khas Tasaro yang membuat pembacanya iri dengan kemahirannya menguntai kata menjadi baris-baris kisah yang apik.

Anda pernah merasa suka dengan seseorang, membuat segalanya terasa hambar  karena perasaan itu tertahan di ujung lidah? Atau kesal dengan seseorang tapi tidak bisa menggesernya begitu saja dari ruang hati? Tidak Bisa Ke Lain Hati, kalau lagu lawas Kla Project boleh mewakili.  Atau mungkin pernah menghadapi seseorang yang mati-matian ingin kita enyahkan dari kehidupan. Kalau bisa menghapusnya dari folder kenangan kita. Ehm, coba  dengan membaca kisah lain yang tidak tidak biasa, seperti kumpulan 9 cerita dalam TSKDC ini. 

Kisah pertama dibuka dengan cerita Dr Smile, dokter lajang yang mempunyai segalanya tapi pecundang dalam bercinta. Pembawaannya yang hangat membuat seorang pasien, Aryati memercayainya untuk menjadi penyambung Aryati dengan penggalan masa lalunya. Dr Smile memenuhi permintaan Aryati untuk menjalankan misi sucinya itu dengan menempuh ratusan km ke sebuah desa di kaki gunung Wilis. Dr Smile  menemui lelaki sepuh yang dirajam perasaan bersalah selama puluhan tahun. Bagaimana akhir misi ini? Ada apa antara Aryati dengan masa lalunya itu, sehingga membuat Dr Smile dicekam rasa iri?

Berlanjut dengan kisah lainnya, ada Roman seorang penggemar fotografi. Pembawaan dan cara pandangnya yang nyeleneh membuat teman-teman dan Gendhis, kekasihnya mencap Roman sakit jiwa. Jorjie, kucing kesayangan Roman tak ayal membuat Gendhis kesal dibakar cemburu. Demi meluluhkan Gendhis yang juga model fotonya, Roman berfikir keras untuk memberi Gendhis sebuah  hadiah. Hadiah yang sukses membuat Gendhis terkejut,  memekik panjang. Kira-kira, kado apa yang diberikan oleh Roman, ya?

Bukan Tasaro kalau tidak pandai membuat emosi pembacanya seperti merasa naik wahana halilintar, setelah hanyut dengan misi Dr Smile, terpana dengan ajaibnya kejiwaan seorang Roman atau merinding  setelah terjebak dalam teka teki di  sebuah galeri lukis, kisah Angaraka dan Arumdhatilah yang paling saya suka.

Dengan judul cerita yang juga menjadi judul buku ini, pembaca diajak untuk merangkai potongan asa yang mengembara jauh untuk kembali menemukan cinta sejatinya di kaki gunung Brahma. Cinta sejati sebenarnya tidak pernah jauh. Sekalipun resonansi kerinduan yang bersambut itu memerlukan waktu menemukan frekuensi yang sama setelah menanti bertahun-tahun berkelana. Arumdhati menemukan firasat itu setelah lembaran-lembaran rupiahnya yang dikumpulkannya ternyata gagal memboyong hadiah untuk seorang ibu yang memahami apa yang terjadi diantara ia dengan Angaraka. Apa yang membuat Arumdhati ditarik pusaran gelombang rasa, terkadang putus asa, sesekali harapnya membuncah? No spoile, baca saja kisahnya di sini. 

SImak cerita Sutha, aktivis liqa yang gelisah dengan visi ideal yang mendekati  malaikat,  Bhumi wartawan muda yang galau menghadapi realita tiba-tiba diusik oeh temannya sendiri (yang membuat Bhumi ilfil). Atau seseorang yang puluhan tahun memendam cintanya yang tidak akan pernah tersampaikan. Lalu ada  juga pelesirannya Tasaro  di negri Singa bersama seorang penulis fenomenal. Kalau kita jeli membaca cerita dan cukup 'ngeh' dengan kehebohan yang pernah melanda seorang penulis tanah air, kita bisa segera menyimpulkan siapa sosok yang dimaksud dalam cerita berjudul Atarih

Terakhir, Tasaro menutup buku ini dengan surat cinta yang panjang seorang anak kepada ibundanya. Mengenang putaran waktu yang telah berlalu dan merangkum kamus hidup yang tidak ada habisnya. Membaca surat ini, menyadarkan pembaca, cepat atau lambat peran seorang anak akan berganti menjadi seorang orang tua, suatu keniscayaan yang tidak bisa ditahan waktunya. Akhirnya, belajar kearifan adalah cara terbaik sebagai bekal kita di masa depan. 

Kalau Atarih, tokoh dalam buku ini mengatakan tugas seorang penulis hanyalah menulis, mengkritik adalah tugas pembacanya, sulit buat saya mengorek kelemahan buku ini.

"Itu karena kamu ngefans berat sama tulisan-tulisan dia," cecar seorang teman saya.

Hmm, mungkin, ya. Terlepas dari itu, saya angkat lima jari saya, salut! Selain ending yang unik, meminjam istilah Isa Alamsyah sebagai Twist Ending, saya memuji keberanian  Tasaro yang mengangkat latar Angaraka-Armudhati yang berbeda keyakinan, diskusi panjang Bhumi dengan Zain menghadapi perbedaan atau kesimpulan yang kita tarik siapa dan bagaimana tokoh utama dalam cerita Separuh Mati memendam cintanya. Satu tambahan dari saya, ending dari cerita Tuhan Tidak Pernah Iseng sedikit banyak bikin saya gregetan. Yaaa, kok gini, ya?

Jadi,...
Mau kubilang lantang....
... atau kupendam dalam diam
Tetap saja kusebut  (dia) cinta.
4 komentar on "Resensi Buku : Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta"
  1. wwah bagus nih bukunya,,boleh dong pinjeem..
    eh btw Tasaro GK kan yang nulis buku MUHAMMAD kan??,,bagus loh bukunya :))
    nice share kakaak :))
    salam EPICENTRUM
    mampir ya :))

    BalasHapus
  2. jd dlm satu buku ada maca2 crt cinta, ya?

    BalasHapus
  3. @Rizki Pradana
    Iya, penulisnya sama. Siip, nanti saya jalan-jalan ke lamannyr Rizki

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.