Top Social

Bring world into Words

Pameran Buku Bandung 2013, Wisata Belanja Book Lover

Selasa, 08 Oktober 2013


Hari minggu, 6 oktober kemarin saya menyambangi arena Pameran Buku Bandung di gedung Landmark, jalan Braga. Seperti sudah 'kecanduan' buat saya yang menyukai buku, ajang pameran dengan diskon lumayan ini rasanya sayang sekali untuk dilewatkan begitu saja.

Saya datang ke TKP sekitar pukul setengah empat sore. Acara bedah buku Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta (TSKDC) sudah berlalu. Selama di perjalanan, sms dan bbman dari teman-teman yang sudah datang duluan semakin ngipasin saya kepingin sampai. Dengan mamang angkot yangn alon kelakon dan sekali-kali ngetem cukup bikin  gemes. Mau gimana lagi? Sebagai angkoter, saya cuma bisa pasrah. Kalau mau cepet mungkin  bisa pake pintu ajaibnya Dora Emon, ngayal deh.

Begitu tiba, saya langsung menuju stand Mizan untuk membeil TSKDC,  dan membawanya ke belakang arena di mana panggung bedah  buku digelar. Fiuuh, beruntung sekali, Tasaro masih di tempat sedang ngobrol dengan beberapa pengunjung. 

"Tasaro, saya boleh minta tanda tangannya, ya?"
Tasaro mengangguk.
"Sekalian ya, sama koleksi buku saya yang lain," dengan pedenya saya mengeluarkan buku-buku  Tasaro lainnya.  Kinanthi Terlahir Kembali, Sewindu Cinta Itu Tentang Waktu dan buku lawas yang saya dapatkan di bursa diskon Gramedia, Di Serambi Mekah. Maruk sekali? Hahaha... oportunis yang satu ini boleh dong.








Sambil nunggu buku saya ditandatangani, iseng saya nanya-nanya sama beliau. Soal sequel buku Nibiru, ternyata baru akan terbit tahun depan. Well, penantian yang masih panjang. Sekalian  iseng juga nanya soal buku Di Serambi Mekah yang meraih penghargaan Buku Terbaik Adikarya IKAPI 2008. Buku ini mengambil latar Aceh yang dilanda pemberontakan GAM dan tsunami di penghujung 2004. Saya penasaran dengan sosok Maru dalam novel dan kisahnya yang pernah ditawan oleh GAM. Tasaro beneran bela-belain diri datang ke Aceh untuk survei novel ini. Nah, membuat karya bagus itu emang ga main-main pengorbanannya.

"Teh, kok mukanya familiar, ya buat saya?" tanya Tasaro.  
"Saya kan ikutan kelas Antitesa di akun Tasaro GK Juru Dongeng," jawab saya sambil nyengir.  
Mudah-mudahan Tasaro enggak ingat pas saya menjawab dengan konyolnya pertanyaan moderator saat bedah buku Nibiru sekitar 2 tahun yang lalu.
Bocoran nih, camp Brigade Antitesa bakal diadakan sebentar lagi. Jadi, pantengin terus ya akunnya Tasaro GK Juru Dongeng.

Selesai berburu tandatangan, saya melanjutkan jalan-jalan memburu buku incaran. Buku The Enchantress karya Micahel Scott, Novel Rinai-nya Sinta Yudisia ternyata enggak ada di sana. Akhirnya, saya memboyong empat buku ini. Lumayan!


Kritik saya nih buat acara Pameran Buku adalah space mushala yang terbatas. Padahal pengunjung di sana cukup membludak. Perlu kesabaran untuk menunggu gililran salat. Parahnya ditambah dengan pengujung yang asal mengambil tempat. Waktu itu harus menunggu beberapa orang sampai  salatnya selesai agar bisa salat. Padahal masih ada ruang yang tersisa di depan mereka. Melewati yang sedang salat bukan cuma soal sopan tidak sopan, tapi Nabi saw mengajarkan kita untuk tidak lewat di depan orang yang sedang salat sampai selesai. 

Kejadian yang sama, saya alami lagi waktu mau salat Maghrib. Masih ada ruang kosong di barisan depan, masih dilewatkan begitu saja dan sebagian pengujung lebih memilih di belakang, lebih gampang mundur setelah selesai. Sudah begitu, sedang penu-penuhnya jamaah, masih ada yng sempet membuka bekal makanannya usai salat. Aduh, pengen deh, negur meminta mbak itu mundur dan makan di tempat lain. Ewuh pakewuh, enggak mau lama-lama menggrundel,  saya cuma diam dan segera meninggalkan mushala.

Bada Ashar ada Pidi Baiq yang dapat giliran bedah bukunya. Sudah bisa ditebak, penulis yang kocak dan nyeleneh ini berhasil membuat area panggung penuh. Sampai-sampai beberapa pengunjung yang tidak kebagian kursi rela berdiri di belakang, termasuk saya. Pidi dulunya adalah seorang ilustrator buku. Tentu saja, tugasnya untuk membuat ilustrasi buku membuatnya harus membaca naskah buku yang dibacanya. Ini mah harusnya bukan seperti ini naskahnya, kata Pidi. Didorong perasaan seperti itu akhirnya Pidi menggeluti dunia menulis dan sukses seperti yang kita tahu.

Sambil membawa gitar, Pidi banyak menjawab pertanyaan pengunjung dengan bernyanyi. Seperti yang satu ini nih. 

kupunya anjing, kuberi nama kucing
bila kupanggil “Kucing”
dia menggonggong, menghampiriku juga
anjing adalah musuhnya kucing
dia memusuhi dirinya sendiri
anjing adalah musuhnya kucing
dia memusuhi dirinya sendiri
aku tak sengaja, memanggil dia anjing
dia termenung, bingung
majikan plinplan, dan anjing jadi bingung

 Pada sesi tanya jawab seorang pengunjung melontarkan pertanyaan kocak yang membuat saya tersenyum geli. Pertanyaannya adalah, apa yang akan Pidi tanyakan kalau dia mau bertanya pada dia. Pidi bareng tertawa. "Bener euy, bisaan" seloroh seorang pengunjung di sebelah saya.

Pertanyaan seorang mahasiswa lainnya yang menanyakan apakah Pidi seteuju dengan tugas skripsi? Pidi menjawab kalau skripsi itu rentan plagiasi. Kalau skripsi, mahasiswa bertanggung jawab sama dosen saja. Harusnya mahasiswa ditugaskan menulis buku. Kalau ia menulis buku, ia bukan bertanggung jawab cuma pada dosen saja, tapi juga pada masayarakat. Ah, akuuur kang!

Acara bedah buku Pidi selesai saat adzan Maghrib berkumandang. Selesai salat, saya me ngobrol sebentar dengan teman yang bertemu di lokasi, dan segera pulang. Pengennya sih melanjutkan jalan-jalan melihat stand lainnya. berhubung saya harus bisa mengendalikan cash flow, panggilan segera pulang dari orang tua saya menguatkan saya untuk segera meninggalkan arena.





11 komentar on "Pameran Buku Bandung 2013, Wisata Belanja Book Lover"
  1. asyik,
    kepengen buku yang "tetap saja kusebut dia cinta"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  2. wah, gak sempet ke sana :( sayang sekali. mau dong mak satu itu bukunya, hiks hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  3. Senangnya bisa ketemu penulis favorit. Tasaro juga salah satu penulis favoritku, Mak. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  5. @Damae

    Cari bukunya di toko online aja =p~

    BalasHapus
  6. Bangga sebagai putra daerah dari negeri laskarpelangi. saya asli kelahiran sini. sangat suka memperkenalkan keindahan belitung dengan umum diluar sana.
    saya & teman2 saya, adalah staff hotel dari beberapa hotel di belitung. merujuk para traveller untuk bisa menikmati belitung yg masih alami.
    mengunjungi beberapa pulau kecil yg mengelilingi belitung, yg sebagai rute utama kunjungan kesini. hunting view!
    yg pasti membuat anda happy.
    belitung tidak akan menjadikan perjalanan membosankan bagi anda! jarak yg tidak jauh ke arah objek wisata,anda tidak akan menemui macet. holiday anda tidak meninggalkan kesan yg buruk! semoga kami bisa menjadi teman perjalanan anda disini... 0813 31 939 505

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.