Top Social

Bring world into Words

Kalau Salon Thailand Menyerbu

Senin, 26 Agustus 2013
Let's talk about love, eh Thailand.

Thailand? Coba, apa yang wara-wiri di benak kita ngomong soal Thailand? Gajah?  Phuket? Pagoda, kulinernya yang ekstrim (uhuk) atau masih inget gadis-gadis cantik yang menari lenggak lenggok di videoklip Black or Whitenya  mendiang Jacko?

Gambar nyulik dari sini

Is black... or white...
Is black... or white... 
yeah yeah....


Eh, malah konser. Hus! Maaf enggak ada receh :D

Kembali ke topik.

Nah ngomongin soal cantik nih, identik dengan kosmetik atau serangkaian perawatan tubuh, dari jedat sampai jempol kaki. From Head to Toes. Secara nih seperti yang kita tahu, di Thailand sana bukan perempuannya saja yang berlomba pamer  kecantikan tapi juga ladyboynya itu. Duuh, jangan terkecoh, ya. Syerem!

Biasanya pembawaan orang Indonesia itu latah, enggak 'gaul' kalau enggak ikut trend yang lagi booming. Terus, kalau tiba-tiba yang jadi booming di Indonesia itu yang berbau  Thailand, gimana ya? Lalu booming itu dikemas dengan bisnis Waralaba.
Bisanya nih, waralaba itu identik dengan restoran ya, menjamur dari Sabang sampe Merauke, dari roti sampai Ayam dengan aneka remeh temehnya. Jangan bayangkan waralaba dari Thailand yang bakal menyerbu Indonesia itu waralaba kuliner ekstrimnya itu. Sepertinya enggak akan laku.

Lalu, apa dong?
Salon! Iya, salon. Gimana kalo yang rame-rame buka waralaba di Indonesia itu gerai salon dari Thailand? Tentu saja namanya juga waralaba,  jadi standarnya juga enggak akan asal. Mulai dari produk, standar pelayanan sampai tenaga profesionalnya yang diimpor langsung dari Thailand sana.

Terbayang enggak, kalau kapster salonnya ganteng setengah hidup (setengah mati berarti setengah hidup, dong? iya enggak? hehehehe...) mirip dengan eks penjaga gawang Persib Kosin Hathairattanakool (Yeh, mentang-mentang bobotoh, masih aja kepikiran ke situ). Tentu saja pelanggan yang datang bukan berarti disulap, sim salabim! Berubah  cantik nian mirip Yingluck Shinawatra atau Tata Young. Sekedar tambahan info nih, Yingluck Shinawatra itu adalah Perdana Menteri Thailand. Beliau juga adalah adik dari mantan Perdana Mentri Thaksin Shianwatra, dan diusianya yang menginjak 46 tahun itu tetap charming. Ehm!

Gambar nyulik dari sini
Coba deh, blogwalking atau colek-colek Om Google, secantik apa sih wanita-wanita Thailand. Tanpa bermaksud menafikan kecantikan wanita-wanita Indonesia, tapi naluri wanita selalu pengen ngulik soal yang satu ini.

Eh, Apa kabarnya dong salon lokal yang sudah ada duluan? Padahal Indonesia adalah pasar yang empuk buat dibidik waralaba asing. Menurut Asosiasi Franchise Indonesia, pertumbuhan waralaba asing di Indonesia ada di angka 6-7  %, lebih tinggi dari waralaba lokal yang berkisar di angka 2 % saja.


Tapi, sebentar mas Bros, mba Siss (jamak alias plural ceritanya, jadi ditambahin 's'. Penting, enggak, sih? :D)
Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya kalau bisnis waralaba asing di Indonesia itu didominasi oleh restoran. Ya, ada sih memang waralaba  salon ber-merk asing. Marie France Bodyline, contohnya. Itu pun identik dengan program pelangsingan tubuh. Sementara ini, Salon yang tergambar dibenak saya itu perawatan rambut, wajah, tubuh atau pedi meni dan aneka spa. Belum lagi salon-salon khusus muslimah sudah banyak bermunculan, membuat para  muslimah merasa lebih aman dan nyaman untuk mendapatkan jasa perawatan salon ini.

Nah, logika saya yang sederhana nih, kalau saya jadi pemilik salon lokal, saya enggak mau kalah bersaing dong. Mungkin saya bakal berpikir ulang kalau harus menggelontorkan anggaran untuk membeli hak waralaba. Mending buat ekspansi usaha aja. Ilmu bisa didapat dimana saja, kan? Kalau ternyata rahasia kecantikan dari Thailand itu menggempur bisnis kecantikan, saya bakalan ngulik buat cari tahu apa saja sih formula khas Thailand. Lalu saya juga bakal menseting tampilan salon saya dengan nuansa Thailand. Mulai dari bahan baku,  furniture sampai dandanan kapsternya. Tapi enggak tega juga sih kalau membayangkan kapster salonnya memakai sunting ala Thailand yang mirip pagoda itu, ya. Duh, kebayang berat dan pusingnya :D

Namanya juga trend, pasti ada pasang surutnya, ada musimnya. Satu trend bakal diganti dengan trend lainnya yang lebih inovatif. Jadi, nyontek sedikit dari iklan sebuah Mie, ni, "Kembali ke Selera Asal, Pulanglah ke Nusantara". Ramuan khas Indonesia enggak kalah patennya juga. Saya sih udah enjoy dengan 'menu' khas salon langganan saya. Hehehehe.. Padahal, jujur aja saya itu jarang banget ke salon. *buka kartu*

Loyalitas enggak akan kemana kalau para pengelola salonnya inovatif dan kreatif. Masih banyak rahasia alam Indonesia yang belum kita gali. Lagi pula orang Indonesia itu kreatif,  kok. Jadi, bersaing dengan salon waralaba dari Thailand? Ah, siapa takut.







3 komentar on "Kalau Salon Thailand Menyerbu"
  1. Saya sejenak membayangkan bila itu memang terjadi, kreatifitas bangsa Indonesia perlu ditingkatkan. Persaingan itu hal biasa, tetapi sejauh mana kita bisa berinovasi agar memiliki daya saing. Ditunggu kunjungan balik nggih. Salam Kenal.

    BalasHapus
  2. Indonesia emang lebih banyak belum siapnya. Misalnya nih, soal perizinan alias birokrasi. Widiiih, banyak bener meja yang harus dilewatin. Apa karena kita pernah dijajah Meneers van oranje kali, ya? Jadi ikut-ikutan ribet.
    By the way Amrik yang ngaku-ngaku paling liberal sekalipun sebenernya mereka enggak setulus hati tuh belain frree trade. Mereka punya UU anti trust buat 'belain diri'. Hehehe.
    Anyway, kalaupun Indonesia belum bisa 'ngejajah' pasar luar, seenggaknya jadi jagoan dulu lah di rumah sendiri. Kapan coba kedelai bisa dipasok dari pasar lokal, full! Yang ada sejak rupiah babak belur disenggol dolar di tahun 1997 sampai sekarang urusan ini enggak beres-beresnya. Penampakan tahu dan tempe bakal semakin imut saja ya jadinya.

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.