Top Social

Bring world into Words

Bushido : The Last Samurai & Samurai Kazegatana

Kamis, 07 Februari 2013
Idealis konyol.
Istilah ini tercetus dari mulut adik saya beberapa tahun silam. Saat itu adik saya yang lainnya bersikeras dengan pendiriannya. Adik saya yang lainnya, tentu saja berbeda pendapat berdebat, berargumen, saling mengajukan alasan. Tidak usah dibahas di sini ya apa yang jadi perdebatan, tapi pada saat itu tercetuslah ungkapan ini. Ya, idealis konyol. Adik saya yang lainnya tidak mau kalah, adik saya membalasnya dengan membuat catatan dengan judul Misyavad Va Mitavonim, mengutip ucapan Ahmadinejad yang artinya kurang lebih, itu mungkin dan bisa kita lakukan.

Tiba-tiba saja saja, istilah yang sempat terendap beberapa tahun ini menyeruak lagi, begitu saja saat menyaksikan film The Last Samurai. Film yang dibintangi Tom Cruise ini memang menyajikan banyak hal positif dari semangat Bushido. Bagaimana seorang Samurai Katsumoto berjuang gigih mempertahankan idealismenya, membuat seorang prajurit Amerika bernama Algren terpesona dan simpatik. Simpatik, sekaligus membuat Algren berbalik menjadi teman setelah mendapat perlakukan yang baik selama menjadi tawanan, menyaksikan bagaimana Katsumoto dan teman-temannya dalam kesehariannya, bangga dengan budaya leluhur yang membuat Katsumoto enggan menerima restorasi oleh Kaisar Meiji,

Samurai Katsumoto memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, mempertahankan kehormatannya sebagai seorang Samurai. Tentu saja, konyol mengakhiri hidup dengan bunuh diri (meski dalam film itu Katsumoto dibantu Kapten Algren untuk melakukannya).  

Mimpi kaisar Meiji akhirnya terwujud, meski dilalui dengan berdarah-darah, akhirnya bisa membawa Jepang menjadi sebuah negara yang maju dalam ekonomi, menjadi macan ekonomi di Asia dan tak kalah heroiknya, mampu mengurai benang kusut feodalisme korup yang sudah berlangsung beberapa dekade sebelumnya.

Well, saya tidak bermaksud membahas film itu, sudah pernah saya buat postingnya sih beberapa waktu lalu di sini. 


Saya jadi teringat novel berlatar Jepang yang sedang saya baca, Samurai Kazegatana yang ditulis oleh Ichirou Yukiyama. Bagaimana seorang samurai bernama Gorou gigih mempertahankan harga dirinya sebagai samurai dan merasa terhormat mengakhiri hidupnya mati terbunuh dalam sebuah perempuran melawan gerombolan perampok Chigatana. Idealisme konyol yang ditertawakan oleh rekannya sendiri Satoru sesama samurai dan Hinorobu seorang ronin yang turut dalam pertempuran itu.

Satoru yang lebih  perhitungan ternyata adalah utusan kaisar yang menyamar untuk membasmi gerombolan perampok. Pada akhirnya juga ia  tewas menjalankan tugasnya sebagai utusan kaisar. Lalu, bagaimana dengan Hinorobu? Meski terkesan oportunis, Hinorobu yang merasa lebih realistis akhirnya juga  tewas setelah menyelamatkan  majikannya, Akazawa. Tragisnya Akazawa juga akhirnya mengorbankan nyawanya agar nyawa Tsubame terselamatkan.  Tokoh lainnya Hanmaru setali tiga uang. Dengan kemampuan yang dicap pas-pasan oleh Satoru, memilih mati untuk alasan pengabdian pada tuan sekaligus juga membalaskan dendam, dendam yang sayangnya tidak terwujud.

Padahal, kalau merunut kisah dalam novel ini, mestinya pertempuran melawan gerombolan Chigatana tidak usah terjadi  andai saja Akazawa tidak bersikeras menempuh perjalanan dagangnya menuju Hineriyama melalui lembah Toraguchi. Tidakkah Akazawa bisa memutar otaknya untuk mengambil rute lain, meski sedikit lebih lama tapi bisa meminimalkan korban yang jatuh? Tapi begitulah, kalau saja Akazawa tidak bersikeras menempuh perjalanan melalui lembah Toraguchi yang nota bene sarang para perampok itu, saya enggak akan mermbaca novel  keren ini. Akazawa yang cerdas dan perhitungan ini juga pandai mengatur strategi. Akazawa tahu diri kalau nyawanya terancam, tapi dia menyusun siasat untuk mengulur waktu hingga akhirnya ia menyerah. Novel keren yang sarat  filosofi khas Jepang dengan semangat Bushidonya.


3 komentar on "Bushido : The Last Samurai & Samurai Kazegatana"
  1. wow, pilihan bacaannya Mak :)


    Aku bacanya novel romansa aja hihi

    BalasHapus
  2. Ahay :) Novelnya tipis kok Eka, sekitar 350 halaman aja.
    Thank's for visiting my home here

    BalasHapus
  3. ighh... jadi penasaran pengen baca :))

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.