Top Social

Bring world into Words

Abang, Jangan Takut

Minggu, 11 September 2011
Hari ini panasnya bukan main, makanya setelah turun dari angkot tadi aku mampir dulu ke mini market  mencari minuman, sekalian beli sabun mandi yang sudah habis. Selesai belanja yang cuma 'seuprit' aku melanjutkan perjalanan pulang. Angkot yang kutunggu akhirnya datang juga, setelah itu ga lama menyusul sepasang suami istri yang masih muda dengaan dua orang anak yang masih bocah. Istrinya duduk disebelahku, sementara suaminya duduk di sebrangku dengan  kedua anaknya. Yang (mungkin) sulung ssianya sekitar 5 tahunan, sementara adiknya sekitar 3 tahunan. Hmmmm, sedikit memperhatikan si sulung, aku merasa ada ada yang berbeda. Sepintas dia mirip peranakan indo, ganteng meski badannya terlihat ringkih dan wajahnya tampak tirus. Sebentar kemudian si sulung yang belakangan dipanggil Abang ini menggerak-gerakan kedua tangannya terus menerus. Tatapan matanya tidak fokus entah apa yang diperhatikannya. Dugaanku sedikit menguat ketika tiba-tiba si abang menyambar adiknya lalu menjambak rambut ikalnya yang masih sedikit.

"Eh, Abang...! jangan" cegah kedua ortunya. 



Ibunya menyambar si bungsu, mengajaknya duduk bersebrangan sambil menenangkan. Sementara si Abang cuek tanpa merasa bersalah, kedua tangannya kembali bergerak-gerak naik turun seperti hendak melukis sesuatu di udara.

Lima belas menit berlalu, si ayah turun duluan mungkin ada perlu karena sebelumnya (tanpa sengaja nguping) ia menelpon temannya yang sudah menunggu di tempat yang mereka sepakati. Sebagai penumpang angkot yang setia udara panas seperti ini mestinya reflek membuat kita pengen membuka jendela angkot, membiarkan udara dari luar masuk. 

Nah siang itu, jendela di belakang si abang yang memang sebelumnya sudah terbuak sebelumnya - tiba-tiba membuat si abang menjerit histeris seperti ketakutan. Tubuhnya seperti meronta-ronta tanpa alasan yang jelas, air liur menetes dari sudut bibirnya. Sepertinya hembusan angin yang lembut dari jendela siang itu mengagetkannya.  Ibunya segera sigap, meraih si abang, mengajakna duduk disamping dan menenangkan
.
"Sudah bang, ga apa-apa koq. Jangan takut, tenang saja."

Si Abang masih berteriak histeris, tidak bisa tenang meski sudah duduk di samping ibunya sampai beberapa saat kemudian ketika angkot yang kami tumpangi melalui pasar. Satu delman yang kami lewati berhasil mengalihkan perhatiannya. Si Abang mulai tenang dan tersenyum senang ketika Ibunya menunjuk kuda yang menarik delman tepat di belakang angkot.


Aku turun lebih dulu dari  Abang (mama dan adiknya juga dong). Sambil berjalan menuju rumah aku merenung, semoga kelainan yang Abang derita bisa disembuhkan seperti halnya Oscar Yuri Dompas penyandang autis yang berprestasi. Abanng, Oscar dan teman-temannya bukan mahluk aneh yang harus dipinggirkan. Mereka perlu perhatian khusus, perhatian yang mengulurkan tangan dengan tulus menyakinkan mereka kalo mereka tidak ada bedanya dengan kita yang normal. Jadi ingat film Rumah Tanpa Jendela yang pernah aku tonton beberapa waktu lalu, karakter Aldo dan teman-temannya di film itu berhasil menguras air mataku.  Dari mereka kita bisa belajar banyak hal, hal kecil yang kadang kita anggap sepele tapi punya arti yanng besar.
2 komentar on "Abang, Jangan Takut"
  1. yang mereka perlukan itu sikap kita neng, dalam artian sikap kita yang tidak merendahkan mereka, tidak menganggap aneh mereka.
    dengan penangangan yg tepat, mereka bisa berprestasi, kebetulan aku punya beberapa anak yang aku handle, yang memiliki kebutuhan khusus, rasanya bener2 pengen nangis waktu mereka berhasil. jangan pernah ngecewain mrk saat mrk butuh kita say, itu menyakitkan buat anak-anak kebutuhan khusus...ayooo kita peduli terhadap anak-anak ;)

    BalasHapus
  2. Yup, setuju. Di sekolah tempat ibu saya mengajar, mereka gak 'dipinggirkan'. Mereka diajarkan untuk tetap bersosilisasi dan teman-temannya yang normal juga belajar menerima mereka, aware kalo mereka lebih beruntung, belajar peka dengan teman-temannya yang ABK.
    Mereka yang BK tetap satu kelas, belajar bareng dengan teman-teman lainnya yang normal dengan didampingin guru khusus. Meski belajar bareng sama yang normal, kriteria kenaikan kelas buat mereka punya standar khusus, disesuaikan dengn daya tangkap mereka.

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.