Top Social

Bring world into Words

Go Green.... Ijo Royo-Royo

Jumat, 29 Juli 2011
23 Juli Agustus kemaren aku dan beberapa temen ikutan acara rihlah yang digelar Forum Silaturahmi Majelis Percikan Iman (Forsi MPI). Waaah, beneran asyik, seru dan menyenangkan.

Start dimulai dari Lapangan Parkir Sabuga, dari sana kita jalan kaki menyusuri jalan menuju Babakan Siliwangi dan berjalan melewati rumah-rumah warga sambil menyusuri bantaran sungai Cikapundung.

Nah, begitu menyusuri pingiran sungai yang diapit rumah penduduk kita disambut dengan sungai yang air yang meluap, nyaris tumpah ke darat. Ga kebayang ya kalau hujan turun dengan derasnya. Seperti apa ya kondisi penduduk di sini? Nah dari berbagai derajat kualitasnya, kondisi air di Cikapundung ini ada di tingkat 4. Artinya, boro-boro buat minum,mandi, nyuci, dipake buat miara ikan aja ga bisa. Makanya jangan buang sampah sembarangan yaaaa.


Sekitar 3 km dari rumah penduduk kita sampai di ladang dan pematang sawah yang hijau dan asri seperti ini... Duh, jangan sampe developer2 kapitalis mengkudeta lahan ini. Awaaaasssss!!!















Sampai di KM 4.3 kita sampai di lahan yang luas dan lapang. Di sini kita di sambut sama Pak Muharam dan Pak Abdul aktivis dari CRP. Di sini kita dikasih penyuluhan, dikasih tau gimana cara nanam bibit pohon yang baik dan benar.



Nah tanaman ini namanya Gelagah. Bukan sembarang pohon lho, karna tanaman ini tebu Indonesia selamat dari serbuan hama. Waktu itu para peneliti berhasil mengawainkan tebu dengan gelagah dan lahirlah tebu varian baru yang tahan serangan hama.


Beres dapet pengarahan dari Pak Muharam sama Pak Abdul, kita dibagi bibit tanaman, satu orang satu. Ada 3 bibit yang bisa dipilih, Mahoni, Nangka dan Alpukat. Habis milih bibit kita milih lubang tanam yang udah disiapin.
Nah aku ngambil lubang tanam nomor 44, sedikit menurun dari tempat pengarahan tadi. jargon sabun deterjen "Berani Kotor Itu Baik" benar-benar terbukti di sini. Asiik deh.

O, ya jadi gini cara menanam bibit itu lho.. Bibit pohon yang ada diplastik itu kita balik 180 derajat, menghadap ke bawah. Plastik pembungkus bibitnya jadi ga robek dan bisa dipake buat menyemai bibit lainnya, jadi ga nyampah kan. :)
Setelah dibalik, bibitnya kita masukan ke lubang yang udah tersedia, eiiit jangan asal masukin ya balikin lagi seperti posisi semula, akarnya ada di bawah. jangan kebalik.
Bibit yan sudah ditanam kita urug dengan tanah, pelan-pelan aja gak usah pake kaki.




Nah buat menahan posisi tanaman, di kanan kiri pohon yang kita tanam tadi ditahan sama ajir. Trus diikat dengan serat batang pohon yang mirip rafia. Selesai. Meski belum berbuah, bibit yang kita tanam ini langsung bisa kita rasakan manfaatnya. gas CO2 yang terlepas diudara langsung ditangkap sama pohon ini. Carbon Trade yang terjadi sekarang ini emang kurang diimbangi dengan penghijaun yang fungsinya mengikat CO2. Makanya ga heran ya Bandung rasanya panas banget. Hari itu ada sekitar 100 bibit baru yang di tanam. Hmmmm, mudah-mudahan bakal lebih banyak lagi bibit yang ditanam. Bukan cuma di Bandung tapi di tempat laen juga. by the way nih, bibit yang ditanam bakal berbuah antara 3-5 tahun. Bisa ikutan panen ga ya? hehehe...




Habis nanam pohon kita jalan lagi melanjutkan penjelejahan... nah jarang-jarang bisa nemu sawung tempat ngasonya para petani. Bayangin kalo kita bisa makan siang di sini dengan nasi hangat, sayur asam, ikan asin, tahu dan tempe goreng plus sambal dan lalap komplit.... wiiiih biar menu sederhana tapi sedap kayaknya tuh.


Setelah menempuh perjalanan melawati gunung dan lembah (ehhhh emang Ninja Hatori kali ah), kita sampai juga di sungai Cikapundung. Sayang, lupa ga mengabadikan momen di sini. Mudah-mudahan bisa dapet dari temen yang lain ya. Ngomong-ngomong soal sampah ternyata bukan sampah plastik aja yang dibuang warga ke sungai ini. Beberapa waktu lalu pernah ditemukan 'limbah gede' berupa kasur, bangkai kambing dan bangkai sapi!!!! TERLALUUUUHHH!

Akhirnya kita sampai di finish, yakni Curug Dago. Sayang lokasinya ada di abwah jembatan yang kita lewati, agak susah mengabadikan air terjun di sana. Entah kalo ada jalan menuju ke sana yaaa. yang jelas airnya kotor, dan banyak sampah. karung sampah yang dikash panitia ga bisa nampung semua sampah yang terbuang di sana.

Setelah shalat dan makan siang kita dihibur sama kesenian Karinding yang asli warisan urang sunda baheula.Umur kesenian ini udah 600 tahunan lho. Berarti dari tahun 1.500 yaaaa. hmmm jaman apakah itu? Barengan sama Zaman Renaissance ya? :)


Nah sebelum tausiyah Pak Muharam nyambut kita lagi dan bercerita banyak tentang area ini. Di sini kurang lebih ada 2.000 pohon yang ditanam. Pantesan, adem bener. Shalat Dzuhur berjamaah yang kita gelar di alam terbuka rasanya nikmat banget deh.

Setelah itu acara dilanjutin dengan tausiyah sama Mas Amri seorang motivator yang ngasih maateri menarik. Bikin ngantuk jadi hilang. Jangan pernah meremehkan setiap kebaikan yang kita buat, meskim kecil. Kebaikan sama alam juga termasuk diantaranya. Energi positif yang kita tebar bakal mantul lagi sama kita. Analogi sederhananya kalo kita ga peduli dengan lingkungan sekitar rumah kita, ga mau peduli dengan kebersihan yaaa jangan salahin alam kalo kita jadi sakit karena sanitasi yang buruk.




Jam 3 sore acara selesai setelah ditutup dengan sesi foto-foto dan games seru. Wah pengen lagiiiii euy


Ini foto bareng-bareng sebagian peserta Go Green bareng belio. Perempuan aja? iyaaa, selain ga muat, biar ga nyetrum deket2 sama bukan muhrim. Lho, Mas Amri juga termasuk yaaa? hehehe, ya karna belio pemateri dan insya Allah ga apa-apa.
btw, ni foto dapet 'nyulik' dari FBnya Mas Amri hehehe. maaf ya Mas.

2 komentar on "Go Green.... Ijo Royo-Royo"

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.