Top Social

Bring world into Words

True Love

Senin, 14 Februari 2011
Ngudek-ngudek arsip lama dari temen, dah  jadul sih pas Friendster  masih hapening. Mumpung momennya lagi pas nih :)

Kadang saya iri melihat orang-orang di sekeliling saya, disayangi oleh
"seseorang".  Apalagi di bulan Februari. Di mana-mana nuansanya Valentine.
Saya memang penganut "tiada pacaran sebelum akad", tapi sebagai manusia
kadang timbul juga perasaan ingin diperhatikan secara istimewa.

Saya tidak pernah tahu rasanya candle light dinner. Pun tidak pernah
menerima bunga mawar merah. Tidak ada yang menawarkan jaketnya saat saya
menggigil kedinginan. Atau berpegangan tangan sambil melihat hujan meteor.
(Deuh, Meteoor Garden banget! He..he...)

Yah, mungkin saya bisa merasakan sekilas hal-hal itu kalau saya sudah
menikah. Mungkin. Mudah-mudahan. Tapi sampai saatnya tiba, bagaimana caranya
supaya tidak kotor hati?

Lalu  saya pun tersadar, tiga kata cinta yang saya rindukan itu sudah sering
saya dengar. Orang tua saya selalu mengucapkannya. Memanggil saya dengan sayang" betapapun saya telah menyusahkan dan sering menyakiti mereka.
Mungkin mereka bahkan memanggil saya seperti itu sejak saya belum
dilahirkan. Padahal belum tentu saya jadi anak yang bisa melapangkan mereka
ke surga... Belum tentu bisa jadi kebanggaan.. . Jangan-jangan hanya jadi
beban...

Tatapan cinta itu juga sering saya terima. Dari ibu yang bergadang menjaga
saya yang tengah demam... Dari ayah yang dulu berhenti merokok agar bisa
membeli makanan untuk saya... Dari teman yang beriring-iring menjenguk saya
ketika dirawat di rumah sakit. Dari adik yang memeluk saya ketika
bersedih. Dari sepupu yang berbagi makanan padahal ia juga lapar. Dari orang
tua teman yang bersedia mengantarkan saya pulang larut malam. Betapa
seringnya kita tidak menyadari.


Tidak hanya dari makhluk hidup. Kasih dari ciptaan Allah lainnya juga
melimpah. Matahari yang menyinari dengan hangat. Udara dengan tekanan yang
pas. Sampai cinta dari hal yang mungkin selama ini tidak terpikirkan. Saya
pernah membaca tentang planet Jupiter. Sebagai planet terbesar di tata surya
kita, Jupiter yang gravitasinya amat tinggi, seakan menarik bumi agar tidak
tersedot ke arah matahari. Benda-benda langit yang akan menghantam bumi,
juga ditarik oleh Jupiter. Kita dijaga!  Maaf buat anak astronomi kalau
salah, tapi setahu saya sih kira-kira begitulah)

Di atas segalanya, tentu saja ada cinta Allah yang amat melimpah. Duh...
Begitu banyaknya berbuat dosa, Allah masih berbaik hati membiarkan saya
hidup... Masih membiarkan saya bersujud walau banyak tiddak khusyunya.
Padahal kalau Ia mau, mungkin saya pantas-pantas saja langsung dilemparkan
ke neraka Jahannam... Coba, mana ada sih kebutuhan saya yang tidak Allah
penuhi. Makanan selalu ada. Saya disekolahkan sampai tingkat tinggi. Anggota
tubuh yang sempurna. Diberi kesehatan. Diberi kehidupan. Apalagi yang
kurang? Tapi tetap saja, berbuat maksiat, dosa...Malu...

Tentu ada ujian dan kerikil di sepanjang kehidupan ini. Tapi bukankah itu
bagian dari kasih-Nya juga? Bagaimana kita bisa merasakan kenikmatan jika
tidak pernah tahu rasanya kepedihan? Buat saudaraku yang diuji Allah dengan
cobaan, yakinlah bahwa itu cara Allah mencintai kita. Pasti ada hikmahnya.
Pasti!

Jadi, selama ini ternyata saya bukan kekurangan cinta. Saya saja yang tidak
pernah menyadarinya. Bahkan saya tenggelam dalam lautan cinta yang begitu
murni.

Sekarang pertaryaannya, apa yang telah kita lakukan untuk membalasnya? Kalau
saya, (malu nih..) sepertinya masih sering menyakiti orang lain. Sadar
ataupun tidak sadar. Kalaupun tidak sampai menyakiti, rasanya masih sering
tidak peduli dengan orang. Apalagi pada Allah... Begitu besarnya cinta Allah
pada saya dan saya masih sering menyalahgunakannya. Mata tidak digunakan
semestinya.. . Lisan kejam dan menyayat-nyayat. .. Waktu yang terbuang
sia-sia...

Kalau sudah seperti ini, rasanya iri saya pada  semua hal-hal yang berbau
"pacaran pra nikah" hilang sudah. Minimal, berkurang drastislah. Siapa
bilang saya tidak dicintai? Memang tidak ada yang mengantar-antar saya ke
mana-mana, tapi Allah mengawal saya di setiap langkah. Tidak ada candle
light dinner, tapi ada sebuah keluarga hangat yang menemani saya tiap makan
malam. Tidak ada surat cinta, tapi bukankah Allah selalu memastikan
kebutuhan saya terpenuhi? Bukankah itu juga cinta?

Entah cinta yang "resmi" itu akan datang di dunia atau tidak. Tapi ingin
rasanya membalas semua cinta yang Allah ridhoi.
Post Comment
Poskan Komentar

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.