Top Social

Bring world into Words

Kerinduan dan Harapan

Minggu, 21 September 2008
Tragedi zakat Pasuruan beberapa waktu lalu kembali mengusikku. Aku jadi tersenyum kecut membaca sebuah sentilan, "betul, orang miskin jadi berkurang, contoh paling gampang ya itu, tragedi Pasuruan kemaren. Paling ga, 21 orang miskin di sana udah berkurang."
Ironis, sentimen atau apa pun itu rasanya bikin miris aja. Sama halnya saat bulan Ramadhan kali ini. Rasanya ada banyak orang yang terang-terangan show off menunjukan ketidak puasaannya. Entah karena alasan apa, termasuk ketika aku menyaksikan beberapa orang abang tukang becak yang aku lihat juga cuek aja menghisap rokok padahal adzan maghrib belum berkumandang.
Rasa iba sepertinya menguap, satu sudut hatiku mengeluh, "udah susah cari uang, dibakar eh ga puasa pula." Lantas satu sisi lain menyambung. "Barang kali ilmunya belum nyampe, mungkin mereka justru lebih banyak berpuasa saat kebanyakan kita asik menikmati makanan di hari biasa. Atau mungkin kalau berpuasa mereka ga punya tenaga untuk mengayuh becak."
Miris ya rasanya. Saat kita merasa sedih harapan dan asa kita tersendat ternyata masih banyak orang yang jauh lebih malang dari kita. Seperti juga sore tadi menjelang isya seorang kakek tua menggelar karung beras untuk alas jualannya, buah kuni, mirip kersen tapi lebih kecil dan masam rasanya. Sekilas seperti jualan ala kadarnya, rasanya seperti bocah kecil yang sedang bermain pasar-pasaran. Beberapa jam berlalu saat aku pulang melewatinya, kakek penjual kersen tadi masih asik berkutat di tengah jualannya. Tidak jauh darinya ternyata dia ditemani seorang bocah kecil, mungkin cucunya. Kasihan sekali. Sesekali kelopak matanya mengerjap, menahan kantuk. Sementara si kakek tadi tampak bersemangat saat aku menghampirinya, ada sedikit gurat ceria di wajahnya. Sambil menunggunya mencari kantung plastik aku sempat memperhatikan,sepertinya tidak banyak yang membeli jualannya. Gundukan buah kuni yang masih banyak, bahkan ketika ia menukarkan uang pada seorang penjual rokok seolah menunjukkan ia tidak punya banyak uang untuk membayar uang kembalian. "Udah jarang yang jual buah ini neng. Rasanya segar lho,"seloroh kakek tua itu seperti berpromosi. Duh, kasihan sekali.
Sejenak aku melamun dalam sisa langkahku menuju rumah. Bocah kecil itu. Ya, disaat malam seperti ini mungkin anak-anak seusianya tengah menderas quran, beritikaf, sudah tertidur lelap, atau menonton tv, atau barangkali baru saja pulang usai belanja lebaran. Ramadhan tidak kurang dari sepertiga di penghujungnya. Mungkin bagi bocah sepertinya tidak terpikirkan keceriaan di masa usianya. Entahlah, apakah cukup penjualan malam itu untuk makan sahur besok atau sekedar menghangatkan tubuhnya ditengah dekapan malam yang dingin.
Sedih sekali. Rasanya semua keinginan-keinginanku tidak ada artinya saat masih banyak yang jauh lebih malang dariku.
Dan kerinduanku terbit kembali. Aku merindukan seorang pemimpin yang adil, pemimpin yang menyayangi rakyatnya seperti khalifah Umar bin Abdul Azis ketika ia memimpin. Begitu takut akan beban amanahnya, betapa sulitnya seorang muzaki pada masanya mencari mereka yang layak mendapat zakat dan sedekah. Bahkan betapa rindunya aku pada seorang pemimpin besar Rasulullah SAW yang rela tidur beralas pelepah daun kurma. Baginda begitu bersahajanya, bahkan seorang pengemis yahudi yang buta yang selalu menyerapahinya pun tetap ia suapi dengan lembutnya tanpa dendam...
Semoga saja di negeri ini belum kehilangan khalifah Umar bin Abdul Azis lainnya, hartawan yang dermawan seperti sahabat-sahabat Rasul lainnya. Semoga bukan hanya Bangladesh yang mempunyai manusia seperti Muhammad Yunus.
Ya Allah, jangan biarkan kemiskinan dan kepapaan menjauhkan kami dariMu. Ya Allah, jangan biarkan kami jadi hamba yang kufur akan nikmatMu. Ampuni kami jika kami tersalah, jangan hukum kami dengan azabMu karena kelalaian kami. Sayangilah kami ya Rabb. Jauhkan negeri kami dari kehancuran. Lindungi kami dari mereka yang ingin menyeret dan menggelincirkan kami...
Post Comment
Poskan Komentar

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.