Top Social

Bring world into Words

Kritik

Minggu, 15 Juni 2008
Sabtu pagi kemarin aku menyalakan teve, ada acara wisata kuliner di trans tv. Sudah biasa sih tapi begitu melihat teks di tv aku langsung mengenali lokasi kuliner yang disambangi Bondan 'mak nyus nan markotop' itu. DAHAPATI, jalan cipaganti Bandung. Ah, tentu saja aku tau, bukan karna aku suka jajan keliling resto tapi lokasi di teve itu adalah rumah seorang teman waktu sma dulu.
Ga tau juga apa Icha temanku pemilik rumah itu masih tinggal disana atau tidak. Belum lama berselang, handphoneku tiba-tiba berbunyi. Pasti dari Rini -temanku yang sekarang tinggal di palu- dan ternyata bener. "Fi, liat tv ga?rumah Icha masuk teve ya?inget ga waktu kelas satu dulu kita pernah makan-makan disana bareng wali kelas?"
Ya, pita memori di otakku lalu berputar dan berhenti saat empat belas tahun berlalu, kurang lebih. Waktu itu wali kelasku berusaha mencairkan kekakuan, slag dan suasana ketidaknyamanan kelas yang ga mengenakan. Sambil makan-makan, beliau berinisiatif untuk menungkapkan uneg-uneg. Caranya dengan menuliskan kritik kepada teman, siapa saja yang kami maksud tanpa harus mencantumkan nama.
Dan... Mulailah pengadilan itu. Tidak ada yang menyangka kalau hujan kritikan pedas, sinis bakal mengalir deras. Ada beberapa orang diantara kami yang panen kritikan, ada yang biasa saja, bahkan ga mendapat kritikan sama sekali seperti aku - setelah beberapa waktu berlalu aku merasa bersalah karena kritik yang aku tujukan pada seorang teman sebenarnya lebih subjektif.
Waktu itu ada beberapa wajah yang tertunduk malu, sementara yang lainnya sibuk menerka-nerka siapa pengirim kritik sekaligus berharap cemas seperti apa kritik yang bakal mereka dapat.

Singkat cerita acara 'riungan' yang digagas wali kelas hari itu sepertinya tidak mendatangkan hasil positif. Mungkin maksudnya baik- sebutlah Wali kelasku namanya pak Hadi- mejembatani pengkritik dan yang dikritik tanpa merasa sungkan. Tapi menurutku waktu itu tidak adil buat mereka yang dikritik tanpa ada kesempatan untuk membela diri atau meluruskan masalah.
Lidah memang tajam ya, meski kritik disampaikan secara tertulis. Karakter ewuh pakewuh yang malah disimpan dalam hati, kasak kusuk di belakang juga tidak menyelesaikan masalah. Masalahnya ga mudah untuk menyampaikan uneg-uneg langsung kepada seseorang dengan cara yang halus. Kalaupun bukan masalah berat mendingan lupakan saja, ga usah diambil pusing (bukan berarti kita jadi orang yang masa bodoan juga). Satu waktu mungkin kita sebel sama seseorang tapi siapa tau lain waktu justru dia malah yang menyelamatkan kita. Bukankah antara benci dan suka bedanya tipis? Ah, kekurangan kita pun masih banyak, segunung! Ini juga salah satu kelemahanku termasuk keberanian untuk menyampaikan koreksi karna takut tersinggung. Di sisi lain masih banyak kejelekan-kejelekan kita yang tidak diketahui orang lain.
Astagfirullah...
Post Comment
Poskan Komentar

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.